Penurunan yang mencapai 27,5% ini mengisyaratkan jika Bitcoin sudah masuk ke bearish pasar, setidaknya ini dengan memakai istilah dari pasar saham.
Akan tetapi berlainan dengan pasar saham, biasanya harga Bitcoin akan segera naik kuat lagi setelah terjadi penurunan yang dalam. Bahkan juga saat terjadi penurunan lebih dari 20%, akan terjadi kenaiakn yang semakin tinggi dari harga sebelum turun.
Ini membuat coindesk mendapatkan pengertian baru untuk pergerakan pasar Bitcoin. Ada dua hal yang diperhatikan untuk menunjukkan jika Bitcoin bergerak di bearish atau bullish pasar.
Pertama ialah penurunan atau peningkatan harga yang lebih dari 20%. Ke-2 , bila harga tidak lagi dalam waktu 90 hari ke harga tertinggi atau terendah sebelum perubahan terjadi.
Dengan 2 pengertian itu, maka ditegaskan oleh coindesk jika sekarang ini Bitcoin masih dalam trend bullish karena sudah berada dalam trend kenaikan dalam kurun waktu 407 hari terakhir sampai minggu ini, sejak pertama kali naik pada Maret 2020 pada awal pademi Covid-19.
Dengan tidak adanya konsensus mengenai fundamental atau korelasi makro untuk crypto, analitis siklus semacam ini bisa membantu investor yang ingin mengartikan dinamika pasar.
Selain dari pergerakan bullish dan bearish, coindesk membagi volatilitas 30 hari bitcoin jadi tiga kelompok: volatilitas rendah (<0,5), tengah (≥ 0,5 dan <1,0) dan tinggi (≥ 1,0).
Siklus ini diartikan sebagai masa di mana rata-rata pergerakan 30 hari dari volatilitas 30 hari tidak berpindah dari 1 kelompok ke kelompok yang lain.
Dari percobaan ini ditemukan jika siklus-siklus pergerakan harga Bitcoin ini jadi lebih pendek di tahun 2019 dan relatif masih tetap pendek dibandingkan masa 2014 sampai 2018 ayng cenderung lebih memanjang.
Comments
Post a Comment